Namanya Raka, lulusan Teknik Sipil dari sebuah kampus negeri di Jawa Timur.
Ia membayangkan setelah wisuda akan memegang helm proyek, meninjau pembangunan jalan raya, atau merancang sebuah gedung yang megah.
Ia ingin bangga di depan keluarganya saat bisa menunjuk sebuah bangunan dan berkata,
“Ayah, Ibu, itu hasil rancangan saya.”
Namun takdir terkadang menguji dengan cara yang tidak
terduga.
📌 Babak 1 — Ketika Mimpi
Tidak Bertemu Kesempatan
Pasca kelulusan, Raka menghadapi kenyataan keras.
Dunia konstruksi sedang melambat, banyak proyek ditunda.
Lamaran dikirim ke
mana-mana, tetapi panggilan hanya sedikit — dan semuanya belum berjodoh.
Beban moral mulai menekan:
teman seangkatan sudah bekerja,
tetangga mulai bertanya,
tabungan makin menipis.
Dalam doa malam yang lirih, Raka bertanya:
“Apakah aku salah mengambil jurusan?”
Di tengah kegundahan itu, tiba-tiba datang tawaran dari
sebuah perusahaan logistik untuk bekerja di bagian pergudangan. Sama sekali
tidak berkaitan dengan teknik sipil.
Tapi keadaan memaksa.
Raka menerima pekerjaan itu.
📌 Babak 2 — Bekerja di
Dunia yang Tidak Dipilih
Hari-hari pertama di gudang terasa aneh:
Rak barang yang tidak teratur
Gudang sempit namun penataan semaunya
Pencatatan stok masih manual
Tenaga kerja sering kebingungan mencari barang
Supervisor hanya berkata:
“Sudah sejak dulu seperti ini. Jalani saja.”
Raka merasa seperti roda kecil dalam mesin besar yang
berantakan.
Dalam hati ia masih menyimpan mimpi jadi engineer.
Gudang seolah mematikan potensi itu.
Namun diam-diam…
Insting seorang lulusan teknik sipil tak bisa sepenuhnya dipadamkan.
📌 Babak 3 — Saat Ilmu
Bertemu Masalah Nyata
Suatu hari, terjadi kekacauan besar:
Barang yang harus dikirim hari itu hilang di antara tumpukan.
Truk menunggu terlalu lama, pelanggan komplain keras, dan
perusahaan hampir rugi besar karena keterlambatan.
Semua orang panik.
Tapi bagi Raka… saat itu ia melihat sesuatu:
Masalahnya bukan orangnya malas.
Masalahnya sistemnya salah.
Ia mulai mengamati:
alur pergerakan barang tidak efisien,
rak disusun tanpa perhitungan jalur,
barang tutup jalan forklift,
tidak ada zoning berdasarkan frekuensi pengambilan.
Insting teknik sipil membawanya pada kebiasaan: mengukur,
menganalisis, memetakan.
Suatu malam, ia pulang terlambat…
bukan karena lembur, tapi karena membuat sketsa denah gudang baru.
Dengan prinsip penataan ruang dan alur konstruksi, ia
merancang ulang:
✔ Jalur forklift one-way
✔ Zoning barang berdasarkan cepat/lambat bergerak
✔ Labeling dan mapping yang jelas
✔ Rak tinggi dan sistem penyimpanan vertikal untuk
menambah kapasitas
✔ Rute picking yang efisien
Ia menyerahkan desain itu ke supervisor.
Awalnya semua orang ragu… tapi perusahaan sedang butuh solusi.
Dan mereka mencobanya.
📌 Babak 4 — Ketika Jalan
“Melenceng” Menuntun pada Tujuan
Hasilnya mengejutkan:
Waktu pengambilan barang turun 40%
Kapasitas gudang naik 25%
Komplain pelanggan menurun drastis
Biaya operasional lebih rendah
Manajer memanggilnya dan berkata:
“Kamu lulusan teknik sipil ya?
Kita butuh kamu untuk membenahi cabang lain.”
Gudang yang dulu terasa seperti pembuangan mimpi
tiba-tiba menjadi panggung bagi ilmu yang ia pikir tidak berguna.
Raka tersenyum lirih.
Tuhan tidak menutup jalan kariernya…
Tuhan hanya mengarahkan ke jalan yang lebih luas.
Kini, Raka bukan sekadar pegawai gudang.
Ia adalah engineer logistik yang membantu ratusan orang bekerja lebih efektif.
Dan ia bangga pada dirinya:
“Aku tetap membangun.
Hanya saja bangunanku tidak menjulang di langit —
tapi mengalir dalam sistem yang menggerakkan banyak orang.”
.png)

