Wednesday, December 3, 2025

Sarjana Teknik yang Menemukan Tujuan di Gudang



Namanya Raka, lulusan Teknik Sipil dari sebuah kampus negeri di Jawa Timur. 

Ia membayangkan setelah wisuda akan memegang helm proyek, meninjau pembangunan jalan raya, atau merancang sebuah gedung yang megah.

Ia ingin bangga di depan keluarganya saat bisa menunjuk sebuah bangunan dan berkata,

“Ayah, Ibu, itu hasil rancangan saya.”

Namun takdir terkadang menguji dengan cara yang tidak terduga.


📌 Babak 1 — Ketika Mimpi Tidak Bertemu Kesempatan

Pasca kelulusan, Raka menghadapi kenyataan keras. 

Dunia konstruksi sedang melambat, banyak proyek ditunda. 

Lamaran dikirim ke mana-mana, tetapi panggilan hanya sedikit — dan semuanya belum berjodoh.

Beban moral mulai menekan:

teman seangkatan sudah bekerja,

tetangga mulai bertanya,

tabungan makin menipis.

Dalam doa malam yang lirih, Raka bertanya:
“Apakah aku salah mengambil jurusan?”

Di tengah kegundahan itu, tiba-tiba datang tawaran dari sebuah perusahaan logistik untuk bekerja di bagian pergudangan. Sama sekali tidak berkaitan dengan teknik sipil.

Tapi keadaan memaksa.
Raka menerima pekerjaan itu.


📌 Babak 2 — Bekerja di Dunia yang Tidak Dipilih

Hari-hari pertama di gudang terasa aneh:

Rak barang yang tidak teratur

Gudang sempit namun penataan semaunya

Pencatatan stok masih manual

Tenaga kerja sering kebingungan mencari barang

Supervisor hanya berkata:

“Sudah sejak dulu seperti ini. Jalani saja.”

Raka merasa seperti roda kecil dalam mesin besar yang berantakan.
Dalam hati ia masih menyimpan mimpi jadi engineer.
Gudang seolah mematikan potensi itu.

Namun diam-diam…
Insting seorang lulusan teknik sipil tak bisa sepenuhnya dipadamkan.


📌 Babak 3 — Saat Ilmu Bertemu Masalah Nyata

Suatu hari, terjadi kekacauan besar:
Barang yang harus dikirim hari itu hilang di antara tumpukan.

Truk menunggu terlalu lama, pelanggan komplain keras, dan perusahaan hampir rugi besar karena keterlambatan.

Semua orang panik.
Tapi bagi Raka… saat itu ia melihat sesuatu:

Masalahnya bukan orangnya malas.
Masalahnya sistemnya salah.

Ia mulai mengamati:

alur pergerakan barang tidak efisien,

rak disusun tanpa perhitungan jalur,

barang tutup jalan forklift,

tidak ada zoning berdasarkan frekuensi pengambilan.

Insting teknik sipil membawanya pada kebiasaan: mengukur, menganalisis, memetakan.

Suatu malam, ia pulang terlambat…
bukan karena lembur, tapi karena membuat sketsa denah gudang baru.

Dengan prinsip penataan ruang dan alur konstruksi, ia merancang ulang:
✔ Jalur forklift one-way
✔ Zoning barang berdasarkan cepat/lambat bergerak
✔ Labeling dan mapping yang jelas
✔ Rak tinggi dan sistem penyimpanan vertikal untuk menambah kapasitas
✔ Rute picking yang efisien

Ia menyerahkan desain itu ke supervisor.
Awalnya semua orang ragu… tapi perusahaan sedang butuh solusi.

Dan mereka mencobanya.


📌 Babak 4 — Ketika Jalan “Melenceng” Menuntun pada Tujuan

Hasilnya mengejutkan:

Waktu pengambilan barang turun 40%

Kapasitas gudang naik 25%

Komplain pelanggan menurun drastis

Biaya operasional lebih rendah

Manajer memanggilnya dan berkata:

“Kamu lulusan teknik sipil ya?
Kita butuh kamu untuk membenahi cabang lain.”

Gudang yang dulu terasa seperti pembuangan mimpi
tiba-tiba menjadi panggung bagi ilmu yang ia pikir tidak berguna.

Raka tersenyum lirih.
Tuhan tidak menutup jalan kariernya…
Tuhan hanya mengarahkan ke jalan yang lebih luas.

Kini, Raka bukan sekadar pegawai gudang.
Ia adalah engineer logistik yang membantu ratusan orang bekerja lebih efektif.
Dan ia bangga pada dirinya:

“Aku tetap membangun.
Hanya saja bangunanku tidak menjulang di langit —
tapi mengalir dalam sistem yang menggerakkan banyak orang.”

 

Share:

Sunday, September 17, 2023

Monday, November 7, 2022

Tuesday, November 1, 2022

Surat untuk Masa Depan


Mengapa menulis surat untuk masa depan?
a. Agar kita bisa merefleksi diri : Memahami kekurangan dan kelebihan diri sehingga membuka kesempatan untuk melihat hal - hal penting dalam hidup yang sudah pernah dilalui. 
b. Meningkatkan kesadaran diri :  Meihat diri secara objektif sehingga mampu menemukan tekad dan ketekunan dalam mengatasi berbagai rintangan.
c. Membuat tujuan hidup : Mulai mengambil langkah-langkah aktif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
d. Membuat rencana karir  :  Membantu mencocokkan kemampuan diri dengan peluang yang ada.

Bagaimana cara menulis surat untukmu di masa depan?
Share:

Saturday, February 12, 2022

Thursday, September 2, 2021